Thursday, 29 July 2010  
18. Sha'aban 1431
  Jumu'ah
   
Text Size

FUI Unjuk Rasa di Kedubes China

fui1.jpg Senin (13/7) siang ini, FUI menggelar aksi damai menyikapi Insiden kekerasan aparat keamanan China terhadap umat Islam Uighur di Provinsi Xinjiang.

 

 

Sekitar 70 orang yang tergabung dalam ormas Islam seperti Forum Umat Islam (FUI), Jama'ah Muslimin (Hizbullah), Front Pembela Islam (FPI), dan Medical Emergency Committee (MERC) melakukan unjuk rasa di depan Kedubes Republik Rakyat China (RRC), Jakarta.

 

Mereka menyerukan kepada Pemerintah Indonesia agar melakukan desakan diplomatik kepada pemerintah China untuk menghentikan kekerasan terhadap kaum muslim di Xianjiang dan meminta audiensi dengan pihak Kedubes RRC di Indonesia.

"Kami harapkan umat Islam tetap memberikan dukungan solidaritas sehingga sikap yang dilakukan aparat keamanan China tidak terulang lagi," kata Ketua Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath

FUI akan terus melakukan protes melalui Duta Besar (Dubes) China di Jakarta untuk mendesak pemerintah China agar tidak lagi mengintimidasi dan melarang umat Islam.

Sebelum ini, juga Al Khaththath berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk melayangkan
surat protes ke Pemerintah China terhadap perlakuan pada umat Islam Uighur, karena tindakan itu tidak sesuai dengan ajaran agama.

Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya pihak dari Kedubes RRC mengizinkan dua perwakilan dari massa untuk berdialog yaitu, KH Muhammad Al Khaththath, Sekjen FUI dan Yose Rizal, dari MERC.

Salah seorang anggota dari Hizbullah, Edi Wahyudi mengungkapkan bahwa aksi ini merupakan wujud simpati dan protes mereka terhadap etnis muslim Uighur.

"Melihat keadaan para muslimin. Kami sebagai muslimin yang berasudar merasa terzolimi. Ini merupakan wujud sikap protes terhadap kezoliman yang terjadi pada orang Islam," katanya.

Aksi unjuk rasa ini dikawal sekitar 55 personel polisi sehingga tetap berjalan tertib dan tidak mengganggu arus lalu lintas. Sementara perwakilannya melakukan audiensi, para pengunjuk rasa menunggu di luar gedung Kedutaan Besar RRC. Sampai berita ini diturunkan unjuk rasa masih berlangsung.

Sementara itu di Surabaya, Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) gabungan berbagai elemen mahasiswa se Surabaya menggelar aksi di depan Konjen China Jalan Raya Mayjen Sungkono Surabaya. Mereka menuntut pihak otoritas Cina menghentikan kekerasan di Xinjiang, Cina yang menimpa umat muslim.

Puluhan mahasiswa ini menilai, pemerintah
China tidak menghargai perbedaan keyakinan yang sudah menjadi kesepakatan dunia, karena tidak berusaha menghentikan kekerasan yang terjadi dan hingga saat ini masih berlangsung.

"Kita menuntut dan mendesak pemerintah China untuk menghentikan kekerasan terhadap umat muslim," kata Humas FSLDK, Syaiful Khaliq, Senin (13/7).

Aksi yang dilakukan para mahasiswa ini hanya boleh dilakukan dengan jarak 100 meter dari gedung Konjen Tiongkok. Dalam aksinya mereka menggelar poster mengutuk kekerasan yang terjadi di negeri tirai bambu itu. Spanduk-spanduk yang mereka pampang adalah 'Lindungi Muslim Uighur, Lindungi HAM Muslim Uigur','Solidaritas untuk Muslim Uigur dari
Indonesia Hingga Xin Jiang','No Discrimination To Minority','Ungkap Kebenaran Kasus Xin Jiang' dan beberapa poster dukungan lainnya.

Sementara permintaan 5 mahasiswa untuk bertemu dengan pihak konjen ditolak. Pihak konjen mengaku tidak berhak dan takut mengeluarkan statement. Massa yang berkumpul di pinggir jalan ini dijaga ketat pihak kepolisian dari Polsek Dukuh Pakis dan Polres Surabaya Selatan.(MD)