Thursday, 29 July 2010  
18. Sha'aban 1431
  Jumu'ah
   
Text Size

MEMAHAMI FASE PERJUANGAN DALAM JAMAAH

Oleh : Abu Hadid  

Kehidupan manusia bak ubahnya siklus yang berjalan, semua tentu ada awal dan akhirnya, sehingga kalau diruntut perjalanan hidup manusia, maka siklus kehidupan manusia tersebut berawal dari tidak ada, kemudian ada, setelah itu tiada atau bahasa yang paling mudah dimengerti yakni : lahir, hidup dan mati.

 

Ketiga fase tersebut, yakni lahir, hidup dan mati adalah fase yang sangat pasti dan bersifat wajib dijalani setiap manusia tanpa kecuali, entah itu tua, muda, anak kecil, wanita atau laki-laki, tak lain karena fase ini telah menjadi ketetapan Allah Swt, sehingga siapapun dia, tidak ada yang mampu mengelak dan menolak atau bahkan enggan menjalani fase kehidupan tersebut. Tidak hanya itu saja, dengan adanya fase-fase kehidupan manusia sangat menyadari dan memahami bahwa lahir, hidup dan mati adalah kepastian, kecuali yang Allah kehendaki karena Allah yang maha kuasa atas segala sesuatu.

Maka, jika kehidupan manusia saja terkait dengan fase hidup yang terus mengikatnya, tentu dalam persoalan lainnya, semisal meniti karier, membangun bisnis, mencari rizqi dll,  fase ini pun juga berlaku bahkan wajib untuk dijalani bagi mereka-mereka yang mengeluti atau menjalaninya, walaupun fase tersebut dibahasakan dengan bahasa lain, semisal merintis, berkembang/jaya dan mati/bangkrut.

Inilah fase-fase yang sangat pasti dilalui oleh setiap manusia dan kehidupannya, yang jadi pertanyaan adalah pernahkan kita mencermati dan memahami bahwa fase-fase tersebut juga berlaku bagi sebuah jamaah yang sedang berjuang menegakan  Islam ? Jawabannya sudah pasti ya, karena pada kenyataannya jama’ah-jama’ah yang ada saat ini mengalami fase awal, fase berkembang dan fase jaya atau mati.

Sekalipun siklus perjuangan ini juga berlaku bagi sebuah jama’ah, tapi kenyataan hari ini banyak jamaah yang tidak memahami fase-fase perjuangan dari jama’ahnya sendiri, maka ketika sebuah jamaah tidak mencermati dan memahami setiap fase perjuangan dalam jamaahnya akan berakibat,  antara lain :

1.      Jama’ah tersebut sudah pasti tidak memiliki langkah-langkah untuk mencapai tujuannya dengan jelas dan terukur, karena fase berjuangan adalah pijakan dasar untuk membuat langkah-langkah pencapaian tujuan jamaah yang lebih nyata, tidak sekedar rencana global yang sulit untuk dilaksanakan. 

2.      Jamah tersebut sudah pasti tidak memilikiindikator yang jelas dalam memberikan penilaian atas setiap langkah yang telah dilakukan atau dikerjakan jamaahnya, yang ada hanya “pokokya jalan” saja, dan ketika telah meniti fase tertentu kemudian ada yang memberikan pertanyaan,  apakah pada fase ini kita berhasil atau tidak (kalau tidak, maka ada perbaikan), maka jamaah tidak mampu memberikan jawaban yang pasti dan meyakinkan, sekalipun pada anggotanya sendiri

3.      Ketika jama’ah tidak mencemati dan memamahi fase perjuangannya, maka para jajaran pengurus dan anggota akan merasa bahwa jamaahnya hidup seterusnya dan berkembang terus, padahal secara kenyataanya bisa jadi jama’ah tersebut telah kehilangan jatidirinya yang sesungguhnya, akan tetapi tidak disadari oleh jajaran jama’ah, hal ini berakibat jama’ah yang ada hanya berputar-putar tanpa arah yang jelas, antivitasnya hanya berkutat pada penata dan penataan semata.

4.      Tidak mengertin dan pahamnya fase perjuangan, sudah tentu jama’ah tidak akan mampu mensikapi berbagai permasalahan atau persoalan yang muncul diinternal amaupun eksternal jama’ah, kalaupun mampu biasanya tidak tepat sasaran sehingga masalah atau persoalan yang muncul cenderung akan bias dan ngambang, sebab jama’ah tidak mengenali jati dirinya yang sebenarnya –sampai pada fase mana-

5.      Tidak mampu memandang objektif dan realistis terhadap jama’ahnya sendiri dan seringkali diiringi pula dengan sikap meremehkan jama’ah lain, contohnya seringkali jama’ah memandang berkembang tapi pada hakekatnya telah masuk pada fase mati/kevakuman gerak atau sebaliknya

 

Inilah barangkali beberapa akibat, jika ada jamaah yang tidak memahami dan mencermati fase perjuangan dalam jamaahnya, sehingga tidak tahu arah dan target pencapaiannya secara meyakinkan.

Untuk itu, seharusnya sebuah jamaah yang mengusung perjuangan dengan dakwah dan jihad jangan melupakan fase perjuangannya, karena fase tersebut sudah sangat pasti akan dilalui oleh setiap jamaah manapun. Terlebih lagi bagi jamaah yang menjadi tumpuan dan harapan ummat untuk kembali pada syariat Allah SWT dan melepaskan diri dari belenggu sistem kufar, maka tidak ada jalan lain kecuali jamaah tersebut harus mencermati dan memamahi dengan sungguh-sungguh setiap fase yang telah, sedang dan akan dilaluinya.

Lalu apa fase-fase tersebut dan bagaimanaindikator dari setiap fase – fase perjuangan jamaah ?

(1)         Fase awal (Gagasan/perintisan),

         Gagasan dan merintis ini adalah fase awal yang sangat pasti dilalui oleh setiap jamaah, gagasan atau perintisan ini kalau kita kaitkan dengan siklus kehidupan manusia, masuk dalam cakupan lahir, maka seringkali jamaah yang baru saja dirintis atau dicanankan dibahasakan dengan bahasa “embrio jamaah”. 

         Pada fase ini jika dihitung dengan target waktu yang mendasarkan pada tinjauan manajemen, maka fase awal ini bias dilakukan dalam tempo 3 – 6 bulan saja, bahkan bisa kurang dari 3 bulan 

 

         Adapunindikator yang bisa kita lihat dan kita ukur, antara lain :

a.      Tersusunya konsep perjuangan jama’ah

b.      Terbentuknya nama jamaah

c.       Terbentunya pengurus, walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana

d.     Deklarasi dan pencananan jamaah untuk bisa dikenal oleh ummat 

 

 

(2)         Membangun sistem jamaah,

         Membangun sistem ini dalam siklus kehidupan manusia, masuk dalam cakupan “hidup dan produktif” guna memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai manusia. Dalam sebuah jamaah banyak aspek yang harus dibangun, sehingga membangun sistem ini sangat penting dalam sebuah jamaah, maju atau tidaknya jamaah, siap menjadi harapan ummat atau tidak, snagat tergantung pada proses membangun sistem ini. Maka dalam fase membangun sisten jama’ah akan berada dalam beberapa kondisi :

A.    Jamaah akan semakin maju dan semakin dekat dengan tujuannya, jika para pelaku jamaah dalam hal ini unsur pimpinan, pengurus dan anggota jamaah mengeri, memahami pentingnya fase membangun sisten ini, kemudian ditindaklanjuti dengan beramal atau bekerja keras untuk terbagunnya sistern jamaah yang baik

B.      Jamaah akan cenderung stagnan (tidak maju dan tidak pula mundur atau dengan istilah lain berputar-putar tanpa arah yang jelas), seringkali persoalan ini tidak disadari para pelaku jamaah, karena mereka beranggapan antivitas rutinitas  yang telah dilakukan dalam jamaah telah membawa banyak perubahan, padahal perubahan tersebut seringkali tidak terkait dengan perubahan sistem jamaah, atau dengan kata lain beraktivis tapi sistem jama’ah tidak terbangun. 

Untuk itu, dalam hal ini kita harus bisa membedakan “membangun sistem jamaah” dengan “beraktivitas dalam jamaah”, setiap kita membangun sistem jamaah sudah pasti kita telah beraktivitas dalam jamaah, tapi belum tentu orang yang beraktivitas jamaah itu membangun sistem jamaah, ambilah contoh, kita sering mengadakan proses rektruitmen anggota melalui dauroh-dauroh, tanpa pendataan yang baik, mengklasifikasi peserta yang punya potensi dengan yang tidak, penyimpanan arsip anggota dll, maka yang terjadi adalah banyak anggota yang bergabung dalam jamaah, tapi sistem pendataan dan potensi anggota tidak terbangun secara baik. Begitu pula kita membangun kelaskaran ummat, jika aktivitasnya hanya menguatkan fisik dan aksi-aksi semata, tanpa diiringin dengan penantaan kelaskaran yang baik sebagai perwujudan dari sistem hisbah -yang nanti dijadikan sebagai alat untuk meluruskan anggota jama’ah dan ummat-,  maka kelaskaran ummat tersebut hanya sekedar aktivitas yang tidak mampu membangun sistem hisbah yang baik. Untuk itu penting bagi setiap anggota jama’ah agar memiliki pandangan  ”beraktivitas sekaligus membangun sistem” atau sebaliknya ”membangun sistem dan sekaligus berkativitas.”    

C.     Jamaah akan cenderung mundur dan pada akhirnya akan bubar atau bahasa lainnya mati, jika para jajaran jama’ah ternyata tidak tahu bagaimana membangun sistem jamaah yang baik. Kondisi ke tiga ini, bisa dikatakan kondisi yang sangat parah dan merupakan “presiden buruk” bagi perkembangan jamaah kedepan,  jika ternyata para jajaran jamaah ternyata tidak tahu membangun sistem jamaah, tidak tahu bagaimana harus memulai, tidak tahu bagaimana harus melangkah dan tidak tahu bagaimana harus mengukur tingkat keberhasilannya berjamaah dll. Kalau sudah demikian jamaah tinggal menunggu kematiannya.

 

Fase membangun sistem ini merupakan inti dari fase-fase yang ada, atau boleh dikatakan bahwa fase membangun sistem ini memegang peranan yang sangat penting, keberhasilan jamaah pada fase ini menunjukkan bahwa jamaah tersebut memang pantas untuk berkembang di masa depan secara baik, begitu pula kegagalan dalam fase ini berakibat tidak mampunya jamaah untuk melangkah pada fase-fase selanjutnya dan secara otomatis jamaah tersebut tidak mungkin bias diharapkan membawa ummat pada perubahan yang sesuai dengan Islam.

                     Inilah fase yang sangat menentukan perjalanan jamaah, mampu maju pada fase selanjutnya atau tetap pada fase membangun sistem seterusnya (dari tahun-ketahun yang ada hanya penataan semata).

         Pada fase ini jika dihitung dengan target waktu yang mendasarkan pada tinjauan manajemen, maka fase membangun sistem bisa dilakukan dalam tempo 2 - 3 tahun, tetapi kencerungannya akan mengalami kemoloran waktu, semua tergantung pada jajaran jamaah bersungguh-sungguh membangun sistem jama’ah atau tidak.   

 

         Adapun indikator yang bisa kita lihat dan kita ukur, antara lain :

a.      Tersususnya sistem administrasi dan tatalaksana jamaah secara baik

b.      Terlaksanaanya seluruh program sariyah yang berada dalam jamaah sesuai dengan indikatornya sariyah masing-masing. Dalam hal ini jangan sampai terjadi ketimpangan, maksudnya pada sariyah yang satu sudah sangat jauh pencapaian hasil program-programnya, sedangkan pada sariyah lainnya baru berjalan atau bahkan belum berjalan sama sekal, dan kebanyakan terjadinya ketimpangan ini para jajaran pengurus dan anggota jama’ah tidak tahu bagaimana membangun sistem yang baik  

c.       Berjalannya sistem kerja dalam jamaah dari level paling atas hingga yang paling bawah, walaupun belum tarap sempurna sebagai sistem yang baik

d.      Rotasi kerja dalam jamaah bisa berjalan secara sehat.